Asam dan basa merupakan dua golongan zat
kimia yang sangat penting. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal berbagai
zat yang kita golongkan sebagai asam, misalnya asam cuka, asam sitrun, asam
jawa, asam belimbing, serta asam lambung (HCl). Salah satu sifat asam adalah
rasanya yang masam. Kita juga mengenal berbagai zat yang kita golongkan sebgai
basa, misalnya kapur sirih, kaustik soda, air sabun, dan air abu. Salah satu
sifat basa adalah dapat terlarut dalam lemak
Berkaitan dengan sifat asam basa, larutan
dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu larutan asam, basa, atau netral.
Meskipun asam dan basa mempunyai rasa yang berbeda, tidaklah bijaksana untuk
menunjukkan keasaman atau kebasaan dengan cara mencicipinya, karena banyak di
antaranya yang dapat merusak kulit atau bersifat racun. Berkat pengalaman dan
penelitian para ahli kimia, kini telah tersedia cara praktis untuk menunjukkan
keasaman dan kebasaan, yaitu dengan menggunakan indikator asam basa.
Sifat asam basa dari suatu larutan juga
dapat ditujukan dengan mengukur pH-nya. pH adalah suatu parameter yang
digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman larutan. Larutan asam mempunyai pH
lebih kecil dari 7. Larutan basa mempunyai pH lebih besar 7. Sedangkan larutan
mempunyai pH = 7.
Senyawa-senyawa asam basa dapat
diidentifikasikan secara aman menggunakan indikator. Indikator merupakan zat
warna yang warnanya berbeda jika berada dalam kondisi asam dan basa. Indikator
yang biasa digunakan antara lain kertas lakmus, indikator alami, larutan
indikator bauatan dan indikator dalam bentuk alat.
Identifikasi asam basa dengan menggunakan
kertas lakmus dapat dilakukan dengan cara mengamati perubahan warna kertas
lakmus ketika bereaksi dengan larutan. Ada dua jenis kertas lakmus yang
digunakan, yaitu lakmus merah dan lakmus biru.
Indikator alami juga dapat digunakan dan
diperoleh dari tumbuh-tumbuhan. Indikator ini dibuat dengan cara mengekstrak
umbi, buah, atau bunga.
Indikator buatan dapat menunjukkan suatu
larutan bersifat asam atau basa melalui perubahan warna. Perubahan tersebut
menunjukkan kisaran pH larutan yang diuji. Jadi, indikator buatan lebih akurat
daripada indikator alami karena menunjukkan kisaran pH. Ada beberapa macam
indikator buatan yaitu Fenoftaelin (PP), Bromtimol Biru (BTB), Metil Merah
(MM), Metil Jingga (MO), Bromkesol hijau, Bromkesol ungu dan Alizarin kuning
(fenol merah).
Indikator dalam bentuk alat berupa
pH-meter dan indikator universal. pH-meter merupakan alat untuk mengukur pH
secara tepat. Caranya dengan mencelupkan elektrode pH-meter ke dalam larutan
yang diuji, maka akan diketahui harga pH larutan pada layar pH-meter. Dengan
cara yang sama, kertas indikator universal akan menujukkan perubahan warna.
Perubahan warna tersebut digunakan untuk menentukkan pH. Perubahan warna pada
indikator setelah pencelupan dicocokkan dengan warna yang tertera pada kemasan.
Kemasan indikator universal mencantumkan nilai pH 0-14 pada kedua sisinya.
Warna yang sesuai dengan kemasan menunjukkan harga pH larutan yang diuji.
Meskipun kedua alat indikator tersebut
sangat praktis, tetapi keduanya memiliki kelemahan. Kelemahan pH-meter yaitu
saat menormalkan alat yang telah digunakan ke posisi semula. Adanya sisa
larutan yang masih menempel pada elektrode dapat mengakibatkan larutan baru
yang hendak diuji terkontaminasi sehingga nilai pH larutan yang diuji menjadi
kurang tepat. Sementara itu, kelemahan kertas indikator universal yaitu kurang
teliti dalam mencocokkan warna pada kemasan, nilai pH larutan yang diuji juga
menjadi berkurang.
cr :
Wulandari, Erna Tri dan
Waldjinah. 2013. PR Kimia untuk SMA/MA
Kelas XI Semester 2. Klaten: Intan Pariwara.
Purba, Michael. 2007.
KIMIA UNTUK SMA KELAS XI. Jakarta: Erlangga.
http://yodhadwi.blogspot.com/2011/04/percobaan-indikator-asam-basa-dari.html?m=1
http://dinaseptember.blogspot.com/2012/04/perhitungan-ph-larutan-dengan-beberapa.html?=1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar