Miss You GUYS ! :')

Jumat, 25 April 2014

Asam dan Basa



      Asam dan basa merupakan dua golongan zat kimia yang sangat penting. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal berbagai zat yang kita golongkan sebagai asam, misalnya asam cuka, asam sitrun, asam jawa, asam belimbing, serta asam lambung (HCl). Salah satu sifat asam adalah rasanya yang masam. Kita juga mengenal berbagai zat yang kita golongkan sebgai basa, misalnya kapur sirih, kaustik soda, air sabun, dan air abu. Salah satu sifat basa adalah dapat terlarut dalam lemak
      Berkaitan dengan sifat asam basa, larutan dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu larutan asam, basa, atau netral. Meskipun asam dan basa mempunyai rasa yang berbeda, tidaklah bijaksana untuk menunjukkan keasaman atau kebasaan dengan cara mencicipinya, karena banyak di antaranya yang dapat merusak kulit atau bersifat racun. Berkat pengalaman dan penelitian para ahli kimia, kini telah tersedia cara praktis untuk menunjukkan keasaman dan kebasaan, yaitu dengan menggunakan indikator asam basa.
      Sifat asam basa dari suatu larutan juga dapat ditujukan dengan mengukur pH-nya. pH adalah suatu parameter yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman larutan. Larutan asam mempunyai pH lebih kecil dari 7. Larutan basa mempunyai pH lebih besar 7. Sedangkan larutan mempunyai pH = 7.
      Senyawa-senyawa asam basa dapat diidentifikasikan secara aman menggunakan indikator. Indikator merupakan zat warna yang warnanya berbeda jika berada dalam kondisi asam dan basa. Indikator yang biasa digunakan antara lain kertas lakmus, indikator alami, larutan indikator bauatan dan indikator dalam bentuk alat.
      Identifikasi asam basa dengan menggunakan kertas lakmus dapat dilakukan dengan cara mengamati perubahan warna kertas lakmus ketika bereaksi dengan larutan. Ada dua jenis kertas lakmus yang digunakan, yaitu lakmus merah dan lakmus biru.
      Indikator alami juga dapat digunakan dan diperoleh dari tumbuh-tumbuhan. Indikator ini dibuat dengan cara mengekstrak umbi, buah, atau bunga.
      Indikator buatan dapat menunjukkan suatu larutan bersifat asam atau basa melalui perubahan warna. Perubahan tersebut menunjukkan kisaran pH larutan yang diuji. Jadi, indikator buatan lebih akurat daripada indikator alami karena menunjukkan kisaran pH. Ada beberapa macam indikator buatan yaitu Fenoftaelin (PP), Bromtimol Biru (BTB), Metil Merah (MM), Metil Jingga (MO), Bromkesol hijau, Bromkesol ungu dan Alizarin kuning (fenol merah).
      Indikator dalam bentuk alat berupa pH-meter dan indikator universal. pH-meter merupakan alat untuk mengukur pH secara tepat. Caranya dengan mencelupkan elektrode pH-meter ke dalam larutan yang diuji, maka akan diketahui harga pH larutan pada layar pH-meter. Dengan cara yang sama, kertas indikator universal akan menujukkan perubahan warna. Perubahan warna tersebut digunakan untuk menentukkan pH. Perubahan warna pada indikator setelah pencelupan dicocokkan dengan warna yang tertera pada kemasan. Kemasan indikator universal mencantumkan nilai pH 0-14 pada kedua sisinya. Warna yang sesuai dengan kemasan menunjukkan harga pH larutan yang diuji.
      Meskipun kedua alat indikator tersebut sangat praktis, tetapi keduanya memiliki kelemahan. Kelemahan pH-meter yaitu saat menormalkan alat yang telah digunakan ke posisi semula. Adanya sisa larutan yang masih menempel pada elektrode dapat mengakibatkan larutan baru yang hendak diuji terkontaminasi sehingga nilai pH larutan yang diuji menjadi kurang tepat. Sementara itu, kelemahan kertas indikator universal yaitu kurang teliti dalam mencocokkan warna pada kemasan, nilai pH larutan yang diuji juga menjadi berkurang.


cr :     
Wulandari, Erna Tri dan Waldjinah. 2013. PR Kimia untuk SMA/MA Kelas XI Semester 2. Klaten: Intan Pariwara.
Purba, Michael. 2007. KIMIA UNTUK SMA KELAS XI. Jakarta: Erlangga.
http://yodhadwi.blogspot.com/2011/04/percobaan-indikator-asam-basa-dari.html?m=1
http://dinaseptember.blogspot.com/2012/04/perhitungan-ph-larutan-dengan-beberapa.html?=1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar